Daftar Isi
Memperoleh visa, terutama jika itu adalah izin pertama untuk mengunjungi suatu negara, adalah proses yang sangat mengasyikkan dan bahkan menegangkan. Banyak orang yang mempersiapkan diri untuk mendapatkan dokumen yang didambakan itu menghadapi stereotip, informasi yang ambigu, dan mitos yang tidak jelas tentang cara kerja konsulat, bagaimana wawancara diadakan, dan mengapa penolakan dikeluarkan. Proses pencarian dan penyaringan informasi sangat mirip dengan seorang mahasiswa yang mempersiapkan diri untuk menyerahkan makalah tertulis pertamanya. Namun, jika seorang mahasiswa dapat dengan mudah beralih, misalnya, ke layanan penulisan esai grademiners dan dapatkan makalah yang bagus dari penulis berpengalaman serta lupakan semua kekhawatiran, lalu dengan informasi tentang visa, semuanya tidak begitu jelas.

Bahkan sumber yang memiliki reputasi baik terkadang memberikan informasi yang saling bertentangan. Dalam kasus ini, ketidakmampuan untuk memisahkan mitos yang jelas dari kemungkinan yang kecil dapat membuat Anda kehilangan visa yang didambakan untuk pariwisata atau pekerjaan. Kami akan membahas situasi sebenarnya dengan memperoleh visa di berbagai negara dan mitos apa yang harus Anda hindari agar tidak menyesatkan diri sendiri selama persiapan wawancara dan pengumpulan dokumen.
Mitos 1: Hampir Mustahil Mendapatkan Visa ke Uni Eropa, Inggris, dan AS
Perlu disebutkan bahwa dalam hal memperoleh visa, khususnya visa kerja, di Uni Eropa, Inggris, atau AS, ada pendapat bahwa hanya orang-orang 'terpilih' atau profesional kelas dunia yang memperoleh dokumen tersebut. Memperoleh visa ke negara-negara ini diinginkan oleh banyak orang, dan karenanya, persaingannya besar. Namun, hal itu pasti mungkin. Semuanya bergantung pada banyak faktor. Mari kita lihat data dan angka aktual tentang permintaan visa yang paling populer.
Visa Schengen
Pada tahun 2023, tingkat penolakan rata-rata untuk visa Schengen adalah sekitar 16%. Angka ini bervariasi dari satu negara ke negara lain. Misalnya, Prancis, yang memproses banyak aplikasi, menolak 16.6% aplikasi. Negara-negara lain memiliki tingkat penolakan yang sedikit lebih tinggi, dengan Malta menolak 37.6% kasus dan Estonia menolak 33.1%.
Visa AS
Untuk AS, tingkat penolakan visa turis dan bisnis sebenarnya tinggi, sekitar 50% rata-rata. Namun, hal itu bergantung pada negara dan banyak faktor lain, seperti ikatan keluarga, tingkat pendapatan, dan sejarah kerja sama antarnegara.
Misalnya, pada tahun 2023, petugas imigrasi menolak sekitar 50% permohonan dari Kanada dan Iran, serta sekitar 30% dari Nigeria. Alasan utama penolakan permohonan dari Kanada adalah tidak cukupnya bukti alasan berada di negara tersebut, sementara banyak permohonan dari Nigeria dan Iran tidak disetujui karena pemohon tidak dapat menjamin pendapatan yang cukup. Sebaliknya, petugas imigrasi hanya menolak sekitar 6% permohonan dari Jepang dan lebih dari 3% dari Israel.
Mitos 2: Penolakan Pertama Mengakhiri Upaya Selanjutnya untuk Memperoleh Visa
Ada kepercayaan bahwa satu kali penolakan visa secara otomatis menutup kemungkinan untuk mendapatkan visa di masa mendatang. Namun dalam praktiknya, hal ini tidak terjadi. Dalam kebanyakan kasus, jika Anda mengoreksi semua komentar dari konsulat, Anda dapat mencoba lagi untuk mendapatkan izin berkunjung.
Dan di Amerika Serikat, misalnya, penolakan berdasarkan pasal 214(b) Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan sering kali disebabkan oleh kurangnya bukti hubungan dengan negara asal. Dalam kasus seperti itu, pelamar disarankan untuk memberikan bukti yang lebih baik. Ini bisa berupa dokumen pekerjaan atau kepemilikan properti berharga.
Inggris, pada gilirannya, memiliki sistem peninjauan administratif atas keputusan. Tahun lalu, Skema Penyelesaian Uni Eropa meninjau 89.5% keputusan untuk melindungi hak-hak warga negara Uni Eropa, dan akhirnya menyetujui banyak permohonan setelah peninjauan.
Mitos 3: Undangan Kerja Menjamin Visa Kerja
Banyak pencari kerja di luar negeri yang menerima undangan dari pemberi kerja berasumsi bahwa ini adalah akhir cerita. Padahal, undangan kerja hanyalah alasan untuk mengajukan visa. Itu bukan jaminan undangan ke negara tersebut. Hal ini terutama berlaku di negara-negara yang persaingan untuk mendapatkan pekerjaan sangat tinggi.

Misalnya, di Amerika Serikat pada tahun 2023, kuota visa kerja H-1B adalah 85,000, dengan lebih dari 400,000 aplikasi yang diajukan. Banyak pengusaha menolak pelamar yang tidak lulus sistem kalibrasi dan memenangkan undian visa karena menerima undangan.
Di Jerman, sistem visa kerja Kartu Biru mengharuskan tingkat pendapatan pemohon mencukupi dan gaji memenuhi standar pasar lokal. Hal ini memastikan bahwa pengusaha lokal tidak meremehkan gaji pendatang baru dan tidak menghilangkan kesempatan kerja bagi profesional lokal.
Mitos 4: Visa Memungkinkan Kebebasan Bergerak dan Perpanjangan Izin Tinggal
Bahkan setelah memperoleh visa, dalam beberapa kasus, Anda tidak akan diizinkan untuk mengunjungi wilayah tertentu di negara tersebut. Hal ini berlaku untuk negara-negara dengan tempat wisata dan budaya unik yang memerlukan visa terpisah. Selain itu, memperoleh visa kerja tidak memungkinkan Anda untuk tinggal di negara tersebut tanpa batas waktu. Anda harus memperbarui dokumen ini secara berkala. Jika Anda mengubah tempat kerja atau spesialisasi, pihak berwenang dapat meminta Anda untuk meninggalkan negara tersebut karena izin tersebut dikeluarkan untuk tempat kerja tertentu.
Aturan Utama Saat Mempersiapkan Permohonan Visa
Hadapi lamaran yang serius dengan pikiran jernih dan pemahaman yang jelas tentang apa yang Anda lakukan. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan untuk mengikuti beberapa kiat sederhana agar Anda terhindar dari stres dan meningkatkan peluang persetujuan lamaran Anda.
- Gunakan hanya sumber informasi resmi.
- Siapkan untuk wawancara.
- Siapkan paket aplikasi yang akurat.
Ini adalah tips sederhana dan tampaknya sepele, tetapi gagal mengikuti ketiga parameter ini paling sering menghalangi pemohon visa untuk memperoleh visa.
Kesimpulan
Mendapatkan visa adalah semacam ujian. Anda harus menunjukkan semua pengetahuan dan prestasi Anda, dan struktur khusus akan mengevaluasinya. Itulah mengapa sangat penting bahwa data Anda jujur dan akurat, argumen Anda meyakinkan, dan penilaian Anda tidak mengandung mitos dan prasangka.
